Selasa, 06 November 2018

Alat Musik Slenthem Dan Cara Memainkannya

Alat Musik Slenthem merupakan salah satu instrumen gamelan yang terdiri dari lembaran lebar logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung-tabung dan menghasilkan dengungan rendah atau gema yang mengikuti nada saron, ricik, dan balungan bila ditabuh.

Slenthem adalah salah satu alat musik tradisional yang termasuk dalam keluarga balungan dalam ansambel gamelan Jawa. Instrumen ini berfungsi untuk memainkan melodi pokok atau kerangka lagu dengan nada-nada rendah. Bunyi slenthem berasal dari bilah logam yang dipukul menggunakan tabuh khusus, kemudian diperkuat oleh tabung resonator di bawahnya.

Dalam struktur gamelan, slenthem memiliki peran yang sangat penting karena menjadi penghubung antara instrumen bernada tinggi seperti saron dengan instrumen bernada sangat rendah seperti gong. Dengan demikian, slenthem membantu menciptakan keseimbangan bunyi dan memperjelas arah melodi gending.


Alat Musik Slenthem Dan Cara Memainkannya
Alat Musik Slenthem
Alat Musik Slenthem juga dinamakan sebagai gender penembung oleh beberapa kalangan. Seperti halnya pada instrumen lain dalam satu set gamelan, slenthem tentunya memiliki versi slendro dan versi pelog. Wilahan Slenthem Pelog umumnya memiliki rentang nada C hingga B, sedangkan slenthem slendro memiliki rentang nada C, D, E, G, A, C'. 

Cara memainkan Alat Musik Slenthem
Alat Musik Slenthem Dan Cara Memainkannya
Alat Musik Slenthem
Cara menabuh slenthem sama seperti menabuh balungan, ricik, ataupun saron. Tangan kanan mengayunkan pemukulnya dan tangan kiri melakukan "patet", yaitu menahan getaran yang terjadi pada lembaran logam. Dalam menabuh slenthem lebih dibutuhkan naluri atau perasaan si penabuh untuk menghasilkan gema ataupun bentuk dengungan yang baik. Pada notasi C, D, E, G misalnya, gema yang dihasilkan saat menabuh nada C harus hilang tepat saat nada D ditabuh, dan begitu seterusnya. 

Untuk tempo penabuhan, cara yang digunakan sama seperti halnya bila menggunakan balungan, ricik, dan saron. Namun untuk keadaan tertentu misalnya demung imbal, maka slenthem dimainkan untuk mengisi kekosongan antara nada balungan yang ditabuh lambat dengan menabuh dua kali lipat ketukan balungan. Atau bisa juga pada kondisi slenthem harus menabuh setengah kali ada balungan karena balungan sedang ditabuh cepat, misalnya ketika gendhing Gangsaran pada adegan perangan

Asal-Usul Slenthem

Slenthem berkembang seiring dengan evolusi gamelan Jawa yang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Gamelan sendiri diyakini sudah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, seperti Kerajaan Mataram Kuno dan Majapahit. Slenthem muncul sebagai bagian dari penyempurnaan struktur gamelan agar memiliki lapisan nada yang lebih lengkap.

Dalam perkembangannya, slenthem menjadi instrumen standar dalam gamelan Jawa, baik gaya Surakarta maupun Yogyakarta. Keberadaan slenthem menunjukkan pemahaman mendalam masyarakat Jawa terhadap harmoni musik dan pentingnya keseimbangan antara nada tinggi dan rendah dalam sebuah komposisi.

Ciri Khas Slenthem

Secara fisik, slenthem terdiri dari rangka kayu yang menyangga beberapa bilah logam berukuran lebar dan tipis. Bilah-bilah tersebut disusun berjajar dan digantung dengan tali di atas rangka, sehingga dapat bergetar bebas saat dipukul.

Ciri khas utama slenthem adalah adanya tabung resonator di bawah setiap bilah logam. Resonator ini biasanya terbuat dari logam atau bambu dan berfungsi untuk memperkuat serta memperpanjang bunyi. Berkat resonator tersebut, slenthem menghasilkan suara yang dalam, lembut, dan bergaung panjang.

Bahan Pembuatan Slenthem

Bilah slenthem umumnya terbuat dari campuran logam seperti perunggu, besi, atau kuningan. Pemilihan bahan sangat memengaruhi kualitas bunyi yang dihasilkan. Logam diproses melalui tahap peleburan, pencetakan, dan penalaan agar menghasilkan nada yang tepat sesuai laras gamelan.

Rangka slenthem dibuat dari kayu yang kuat dan tahan lama, seperti kayu jati. Proses pembuatan slenthem membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam menala bilah logam agar selaras dengan instrumen gamelan lainnya. Kesalahan kecil dalam penalaan dapat memengaruhi keseluruhan harmoni gamelan.

Sistem Nada dan Laras Slenthem

Seperti instrumen gamelan lainnya, slenthem menggunakan sistem laras slendro dan pelog. Laras slendro memiliki jarak nada yang relatif sama, sedangkan pelog memiliki jarak nada yang tidak merata dan terdengar lebih kompleks.

Setiap set gamelan memiliki penalaan yang unik, sehingga slenthem dari satu set gamelan tidak dapat dengan mudah digabungkan dengan set lain. Hal ini menunjukkan bahwa gamelan, termasuk slenthem, diperlakukan sebagai satu kesatuan musikal yang utuh.

Teknik Memainkan Slenthem

Slenthem dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tabuh berbentuk bulat atau pipih yang dilapisi kain. Pemain slenthem harus memukul bilah dengan lembut dan terkontrol agar menghasilkan bunyi yang bersih.

Teknik penting dalam memainkan slenthem adalah mematikan getaran bilah sebelumnya saat bilah berikutnya dipukul. Teknik ini diperlukan karena bunyi slenthem cenderung panjang dan mudah bertumpuk jika tidak dikendalikan dengan baik. Oleh karena itu, pemain slenthem dituntut memiliki kepekaan tinggi terhadap ritme dan harmoni.

Fungsi Slenthem dalam Ansambel Gamelan

Dalam ansambel gamelan, slenthem berfungsi sebagai penguat balungan atau melodi pokok. Nada rendah slenthem memberikan landasan harmonis yang membantu instrumen lain tetap berada dalam jalur melodi yang benar.

Selain itu, slenthem juga berperan dalam membangun suasana gending. Bunyi slenthem yang dalam dan bergaung mampu menciptakan nuansa tenang, khidmat, bahkan sakral, terutama dalam gending-gending bertempo lambat.

Peran Slenthem dalam Upacara Adat

Slenthem sering dimainkan dalam berbagai konteks pertunjukan gamelan, mulai dari wayang kulit, tari tradisional, hingga upacara adat dan keraton. Dalam pertunjukan wayang, slenthem membantu menguatkan suasana cerita dan emosi yang disampaikan dalang.

Di lingkungan keraton, slenthem menjadi bagian penting dalam gending-gending resmi yang sarat makna filosofis. Alat musik ini turut mencerminkan nilai keselarasan dan keteraturan yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.

Nilai Filosofis Alat Musik Slenthem

Slenthem sering dimaknai sebagai simbol kerendahan hati dan keteguhan. Meski tidak menonjol, perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan musik. Hal ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Jawa yang menjunjung nilai kesederhanaan dan keharmonisan.

Bunyi slenthem yang tenang dan stabil juga melambangkan keteguhan batin dan kesabaran. Musik gamelan, termasuk slenthem, tidak hanya dinikmati secara estetis, tetapi juga menjadi sarana refleksi spiritual.

Slenthem dalam Perkembangan Musik Modern

Seiring perkembangan zaman, slenthem mulai diperkenalkan dalam konteks musik modern dan pendidikan formal. Banyak sekolah dan perguruan tinggi seni yang mengajarkan slenthem sebagai bagian dari kurikulum karawitan.

Beberapa komposer kontemporer juga menggabungkan slenthem dengan instrumen modern untuk menciptakan karya musik baru. Inovasi ini membantu memperluas apresiasi masyarakat terhadap slenthem tanpa menghilangkan akar tradisionalnya.

Melestarikan slenthem berarti menjaga keseimbangan dan nilai-nilai luhur dalam budaya Jawa. Dengan mengenal fungsi, sejarah, dan makna filosofis slenthem, kita tidak hanya mempelajari alat musik tradisional, tetapi juga memahami kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Demikianlah ulasan mengenai alat musik slenthem.

Next

15 Macam Alat Musik Keroncong Lengkap dengan Gambar

Musik keroncong merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan karakter bunyi yang khas. Berakar dari penga...