Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Setiap orang memiliki ide, namun bukan setiap orang memiliki kemampuan untuk menulis.

Dulunya tempat kami ada seorang anak magang. Lulusan dari universitas bergengsi jurusan jurnalistik. Datang satu bulan, merenungkan 3 atau 4 pilihan judul, namun tidak dapat menulis sebuah artikel lengkap.

Saat bertanya kepadanya, apakah mempunyai pandangan/ide? Ada!

Apakah ada argumen? Ada!

Apakah topik itu menarik? Lumayan!

Bisakah kamu menuliskannya?

Tidak bisa!

Bila muncul kondisi seperti ini, hanya ada satu kemungkinan: Pemahaman Anda terhadap menulis masih dalam kondisi amatir.

write-593333_1920

Menulis Artikel Amatir dan Profesional

Yang disebut menulis konten amatir, kita hanya perlu menjaga suasana hati kita dengan baik. Ini lebih seperti semacam ekspresi emosional dan peringanan. Menulis apa yang ingin ditulis. "Hari ini dadaku bergetar, esoknya ku pikir rasa itu". Tulis apa pun tak masalah, yang penting Anda senang.

Namun menulis konten profesional, perlu Anda untuk membangun sebuah mekanisme. Dalam mekanisme ini, ada prosedur, standar dan langkah. Intinya adalah meningkatkan efisiensi produksi Anda, sekaligus mengurangi dampak emosional pada diri Anda.

Andaikan jika Anda menggunakan cara amatir untuk menulis konten profesional, maka Anda akan menemukan bahwa Anda tidak pernah dapat menulisnya dengan benar. Sudut pandang tidak jelas, kasus tidak memikat, bahkan untuk menulis paragraf pertama saja perlu direnungkan selama beberapa hari.

"Ingin mengekspresikan" dan "ekspresi tidak bisa" akan melangsungkan sebuah perang dunia dalam hatimu, membuat Anda kewalahan. Dan yang paling menakutkan adalah besok waktunya mengumpulkan artikel. Sedangkan sekarang Anda baru saja menulis sebuah judul.

Sama seperti seorang petani tidak akan bercocok tanam karena suka. Seorang penulis juga tidak boleh menulis hanya karena "mendapat sebuah ide".

Jadi, intinya: bagaimana amatir bisa menjadi profesional?

Anda harus membangun sebuah pandangan dunia mengenai menulis konten profesional: memastikan tujuan penulisan, tidak ceramah lagi, mahir menggunakan modus.

Memastikan Tujuan Penulisan

Apakah Anda tahu apa yang dimaksud dengan tujuan penulisan?

Penulis amatir berkata, setiap hari saya berpikir keras mengenai apa yang ingin saya sampaikan, bukannya itu merupakan tujuan?

"Apa yang ingin disampaikan" memang sangat penting. Namun tujuan dari penulis profesional selamanya tidak akan berupa "apa yang ingin Anda sampaikan", melainkan adalah "Anda ingin pembaca melakukan apa setelah siap membaca?"

Misalkan Anda bertemu masalah yang membuatmu kesal. Bos meminta Anda untuk mengerjakan semua tugas dari si A yang sudah mengundurkan diri. Katanya sih kedepannya akan menambah gajimu. Namun nyatanya tak hanya gaji tidak ditambah, setiap hari waktu lembur malah bertambah 3 hingga 4 jam.

Saat ini Anda sudah meledak-ledak. Jadi, berencana menulis sebuah artikel untuk meluapkan amarahmu.

Judul: Bos Bukan Manusia! Menjadikan Orang Sebagai Binatang!

Baiklah kawan, skenariomu sangat bagus dan berisi, namun stop dulu.

Ini adalah topik yang melukai batinmu. Namun respon pertama dari user setelah membacanya adalah: bos Anda bukan orang, apa hubungannya denganku? Bosku sangat baik kok.
Coba Anda pikirkan apakah ada orang di sekitarmu yang tidak mudah mengobrol, itulah situasi mereka. Dan artikel yang ditulis oleh penulis amatir juga seperti itu.

Jadi, untuk mengatasi masalah ini, Anda harus coba membayangkan tindakan user setelah membaca artikel: Apakah user berempati? Atau mengajari user untuk menjauh dari masalah tertentu?

Tinggalkan Era Berceramah

He Tao, seorang editor China, pernah berbagi wawasannya: Dia suka nonton variety show debat. Di dalamnya ada seorang pendebat yang sangat hebat. Di sana, dia bukanlah sosok yang paling ahli berpikir, dan juga bukan yang memiliki keterampilan debat terbaik. Namun dia mampu mengalahkan banyak pemegang juara dalam lomba debat.

Alasan terbesar akan hasil seperti ini adalah: Ini merupakan variety show, kontestan debat langsung membicarakan logika atau aturan begitu naik panggung, sehingga penonton tidak dapat mengikuti alur pemikirannya. Sedangkan kontestan yang menang tersebut langsung menceritakan kisah. Mengarahkan penonton ke dalam argumennya lewat cerita. User akan lebih menyukai hal yang tidak perlu menggunakan otak.

Di era "tidak mengatakan aturan, hanya menceritakan kisah" ini, apakah Anda pernah melihat seorang pria berakhir bahagia jika sudah berdebat atau berlomba logika dengan pacarnya?

Jadi, menulis sesuatu juga harus bercerita, sembunyikan semua argumen Anda dan gunakan cerita untuk bertarung.

Mahir Menggunakan Modus Tertentu

Ada sebuah situs sastra di China. Di antaranya ada beberapa penulis yang update setiap hari. Setiap hari ribuan bahkan puluhan ribu kata. Sekali menulis berlangsung beberapa tahun. Setiap hari tidak pernah berhenti, dan kualitasnya terus meningkat.

Kemampuan menulis seperti ini tentunya memiliki proses dan metode menulis yang tetap. Secara simplenya kita sebut sebagai "modus".

Istilah ini umumnya mengacu pada beberapa cara dan sarana yang tidak begitu baik.

Oleh karena ada perasaan "tidak begitu baik", sehingga ada sebagian orang yang membenci "segala" modus, sehingga satu pun tidak dipakainya; sementara yang lain hanya "mencoba sedikit", ganti setelah dipakai satu atau dua kali, sehingga selamanya berada pada kondisi mencari modus berikutnya.

Terhadap penulis pertama, yang ingin saya katakan adalah: dari zaman dahulu kala, kesetiaan tidak pernah dapat bertahan, selalu moduslah yang mendapatkan hati sasaran.

Sedangkan untuk penulis kedua, Anda jangan terlalu suka berpaling. Mencoba memang perlu, namun gaya yang mudah berubah tidak akan memungkinkan Anda menuai lebih banyak. Anda mungkin akan selalu berkeliaran di tahap "junior". Setelah lama waktu berlalu, Anda bahkan mungkin menyerah menulis karena tidak mendapatkan prestasi yang bagus.

Cara yang lebih tepat adalah mencoba di antara 4 atau 5 macam gaya yang berbeda. Pilihlah dua gaya yang paling familiar bagimu untuk didalami dan digunakan.

Dalam konsep menulis, tingkat kemungkinan modus bermasalah tidaklah tinggi. Karena bagaimana pun juga merupakan pengalaman senior kita.

Malah pemilihan topik dan konsep bercerita akan mudah ditemukan kesalahan. Jadi, kalian jangan membebankan semua kesalahan pada modus.

Mulai Sekarang, Jadilah Seorang Penulis Profesional

Jika Anda ingin memulai jalur penulisan profesional, ketiga pandangan dunia ini harus menembus hingga setiap menit dan setiap detikmu. Serta direalisasikan lewat tindakan. Anda dapat melakukan hal berikut:

Sebelum Anda menyampaikan suatu pandangan, pikirkan bagaimana Anda mempengaruhi audience. Meskipun hanya berbicara saling tatap muka, Anda juga boleh menggunakan cara ini.

Lupakan cara menulis Anda yang hanya mengandalkan pada ketertarikan dirimu sendiri. Ciptakan sebuah "program penulisan" yang profesional.

Jangan dengan mudahnya mengubah "saya merasa harus seperti ini" menjadi standar pengkritikan terhadap konten. Terlebih saat Anda masih belum ahli.

"Tidak mengatakan aturan, hanya menceritakan kisah", tidak semudah seperti yang kita pikirkan. Kebanyakan masalah yang ditemukan adalah jumlah cerita dan kualitasnya tidak mencukupi. Cara terbaik untuk memecahkan masalah ini adalah membangun gudang cerita Anda sendiri.

Menulis telah berubah dari semacam kemampuan kreatifitas menjadi produktiftivitas.

Kesenjangan terbesar dalam industri menulis ini adalah, ketika Anda masih memikirkan bagaimana "menulis" sebuah artikel yang bagus, orang lain sudah berlari sepanjang jalan, sedang memikirkan bagaimana "memproduksi 100.000+ secara massal".

Bottom Ad [Post Page]